Lukas 5:34-35

“Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Sering sekali manusia menganggap dirinya orang yang saleh sehingga dengan mudah menghakimi orang lain adalah orang berdosa. Begitu yang dilakukan oleh para pemuka Yahudi, mereja merasa memiliki wewenang untuk menghakimi orang-orang yang tidak menaati Taurat dan tradisi Yudaisme. Perjumpaan mereka dengan Yesus dan murid-murid-Nya sering diwarnai dengan perbedatan alot. Para pemuka Yahudi memakai standar kesalehan mereka untuk menghakimi Yesus dan para murid-Nya. Kali ini yang menjadi pokok perdebatan adalah tentang puasa. Semua tahu, puasa merupakan salah satu bentuk kesalehan dan kewajiban religius yang harus dilakukan oleh orang-orang Yahudi, selain berdoa dan memberi sedekah. Orang-orang Farisi menegur Yesus karena murid-murid-Nya tidak melaksanakan ibadah puasa. Yesus menjawab, bahwa kehadiran-Nya merupakan kehadiran yang membawa sukacita. Oleh karena itu Ia tidak mewajibkan mereka berpuasa. Baru nanti setelah Yesus tidak lagi hadir bersama mereka, mereka pun akan berpuasa. Yesus tidak menolak puasa sebagai bentuk kesalehan. Namun, Ia menolak apabila kesalehan itu dipergunakan untuk menuai pujian dan dipakai untuk menghakimi orang lain yang belum tentu berbuat dosa.

Maka, berhati-hatilah dengan diri sendiri yang menganggap diri sebagai pribadi yang saleh! Bisa jadi kita saleh namun belum tentu orang lain salah! Maka jangan menjadi orang saleh yang palsu namun jadilah orang saleh yang menghargai keberadaan orang lain. Tuhan Yesus memberkati. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *