Mazmur 139:14
Aku bersyukur kepada-Mu sebab aku dijadikan dengan dahsyat dan ajaib. Betapa ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya

Hidup di era digital menghadirkan tantangan tersendiri. Layar ponsel kita ibarat etalase yang setiap hari memajang prestasi, penampilan, liburan, dan potret keluarga yang tampak sempurna. Di dunia ini, citra dan personal branding menjadi hal yang dijaga dengan serius. Yang tampil adalah versi terbaik, yang sudah dipilih, disunting, dan disaring. Tanpa sadar, kita mulai menginginkan kehidupan yang ideal seperti yang tampak di dunia gawai. Lalu muncul pertanyaan, “Mengapa hidupku tidak seperti mereka?” Jika dibiarkan, pertanyaan ini dapat mencuri sukacita, membuat kita merasa tidak berharga, bahkan memicu ketegangan dengan orang-orang terdekat, termasuk pasangan kita.
Pemazmur menawarkan sudut pandang yang berbeda. Dalam Mazmur 139:14, ia tidak sibuk melihat ke kanan dan ke kiri. Ia memandang kepada Penciptanya dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu sebab aku dijadikan dengan dahsyat dan ajaib.” Perhatikan kata “dijadikan”. Hidup kita bukan kebetulan dan bukan produk massal. Allah sendiri yang membentuk kita dengan penuh perhatian dan kasih. Karena itu, kita berharga bukan karena jumlah likes atau pujian, tetapi karena kita adalah karya tangan Tuhan.
Pemazmur juga menulis, “jiwaku benar-benar menyadarinya.” Syukur tidak datang begitu saja, tetapi lahir dari kesadaran yang disengaja. Ia memilih untuk menyadari karya Allah dalam dirinya, bukan menghitung apa yang tidak dimilikinya. Kita pun perlu ingat bahwa apa yang kita lihat di media sosial hanyalah cuplikan, sedangkan kita mengetahui seluruh cerita hidup kita sendiri. Membandingkan keseharian kita dengan sorotan terbaik orang lain tentu tidak adil. Padahal Tuhan berurusan dengan kita secara pribadi, dengan rancangan yang unik bagi setiap orang.
Hari ini kita dipanggil untuk memandang diri dengan “kacamata” Tuhan, bukan dengan pantulan layar ponsel. Mari bersyukur atas segala yang kita miliki: talenta, keluarga, pekerjaan, bahkan keterbatasan kita. Hargai setiap proses, termasuk yang lambat, sulit, atau belum kita pahami. Nikmati perjalanan hidup yang penuh misteri ini, sebab Allah yang menciptakan kita dengan ajaib juga setia menyertai kita di setiap langkahnya. Kejarlah perkenanan-Nya dan kerjakan panggilan hidup kita, bukan untuk bersaing tanpa henti, melainkan untuk menjadi pribadi yang Tuhan inginkan.
Selamat pagi, selamat bersyukur. Tuhan memberkati kita. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *