Yesaya 44:22

Ingatlah semuanya ini, hai Yakub, sebab engkaulah hamba-Ku, hai Israel. Aku telah membentuk engkau, engkau adalah hamba-Ku; hai Israel, engkau tidak Kulupakan.

 

Sebagai manusia, kehidupan kita tak pernah lepas dari dinamika. Perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus atau terus-menerus terpuruk, melainkan silih berganti. Hal yang paling menarik dari dinamika ini adalah bagaimana kita merespons setiap kondisi tersebut. Saat keadaan sedang baik, kita mudah merasakan penyertaan Tuhan begitu nyata, dan tiada henti kita mengucap syukur atas berkat-Nya. Namun, respons iman kita sering kali berubah drastis ketika keburukan menimpa. Kita serta-merta merasa Tuhan menjauh, melepaskan tangan-Nya, dan melupakan kita. Dilema ini membuat kita kerap berpikir bahwa Ia tidak lagi hadir dalam ruang hati kita. Kehidupan pun terasa semakin sesak; seolah-olah kita telah dilupakan oleh sesama, bahkan oleh Tuhan sendiri.

Dinamika perasaan semacam ini ternyata juga dialami oleh bangsa Israel pada masa pembuangan. Kehancuran Bait Suci pertama dan pembuangan ke Babel memicu krisis iman serta teologi yang mendalam bagi mereka. Mereka sempat berpikir bahwa Allah telah kalah. Di tengah keterpurukan sebagai bangsa buangan, mereka sungguh meyakini bahwa Allah telah melupakan mereka.

Kondisi inilah yang disoroti oleh Nabi Yesaya. Melalui perantaraannya, Tuhan menegaskan bahwa Ia sendiri yang membentuk Israel sebagai suatu bangsa, sehingga tidak mungkin Ia melupakan mereka. Bahkan, Tuhan tidak sekadar mengingat, tetapi Ia juga bertindak untuk menebus dosa-dosa umat-Nya. Janji ini bukanlah angan-angan kosong. Ia mewujudkannya secara nyata dengan memanggil Koresh, seorang Raja Persia, sebagai alat-Nya untuk memerintahkan pembangunan kembali Bait Suci (ayat 28). Kisah ini membuktikan bahwa sedalam apa pun kita terjatuh, Tuhan tak pernah sedetik pun melupakan kita. Ia justru hadir untuk menerima dan mengampuni segala kelemahan kita. Wujud kasih dan pemulihan-Nya pun sering kali bekerja seperti kehadiran Raja Koresh; Ia menolong kita bangkit dari keterpurukan melalui tangan orang-orang yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Maka dari itu, marilah kita melangkah hari ini dengan penuh pengharapan. Sebagai hamba yang dibentuk-Nya, kita tidak akan pernah dilupakan. Percayalah bahwa pemulihan Tuhan selalu hadir tepat pada waktunya; entah melalui uluran tangan orang-orang yang tak terduga, maupun lewat kehadiran keluarga sebagai support system terdekat yang senantiasa menopang kita di masa-masa sulit. Selamat melanjutkan langkah hari ini, Tuhan memberkati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *