Efesus 5:2
“dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.”
Kita sering menganggap kasih sebagai perasaan. Kita mengasihi ketika hati kita nyaman, ketika seseorang baik kepada kita, atau ketika hubungan berjalan sesuai harapan. Tetapi kasih Kristus menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Kasih yang sejati tidak berhenti pada perasaan; kasih mengambil tindakan.
Yesus tidak hanya berkata bahwa Ia mengasihi manusia. Ia menyerahkan diri-Nya. Salib menjadi bukti bahwa kasih-Nya bukan sekadar perkataan.
Paulus kemudian berkata, “Hiduplah di dalam kasih.” Artinya, kasih Kristus yang sudah kita terima seharusnya menjadi cara kita menjalani kehidupan setiap hari.
Mengasihi berarti tetap memilih untuk berbuat baik ketika kita bisa membalas dengan kebencian. Mengampuni ketika kita punya alasan untuk menyimpan luka. Menolong ketika tidak ada keuntungan yang kita dapatkan. Bahkan terkadang, mengasihi berarti rela mengorbankan waktu, kenyamanan, ego, dan kepentingan pribadi demi kebaikan orang lain.
Namun ada satu hal yang perlu kita ingat: kita tidak dipanggil untuk mengasihi supaya mendapatkan kasih Allah. Kita mengasihi karena kita sudah terlebih dahulu dikasihi oleh Allah melalui Kristus.
Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang membutuhkan pengampunan kita. Ada yang membutuhkan perhatian. Ada yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Dan mungkin, Tuhan menempatkan kita di sana bukan secara kebetulan.
Jangan biarkan kasih hanya tinggal di dalam hati. Biarkan kasih menjadi tindakan.
Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang kasih. Dunia membutuhkan orang yang hidup dalam kasih. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

