Yehezkiel 2:7

“Sampaikanlah perkataan-Ku kepada mereka, baik mereka mendengarkan atau tidak, sebab mereka itu pemberontak.”

 

Yehezkiel adalah nabi yang diutus Tuhan untuk menjadi penjaga sekaligus pengingat bagi bangsa Israel. Pada saat itu, bangsa Israel sedang berada dalam masa pembuangan di Babel. Sejak awal, Tuhan telah memperingatkan Yehezkiel bahwa umat Israel tidak akan mendengarkan perkataannya sebagai penyambung lidah Tuhan. Bahkan, seperti yang tertulis pada ayat 5, mereka adalah bangsa yang pemberontak.

Meskipun demikian, Tuhan senantiasa menuntun dan menguatkan Yehezkiel agar tidak gentar menghadapi tekanan dari bangsanya sendiri. Tuhan tetap memerintahkan Yehezkiel untuk menyampaikan firman-Nya, entah mereka mau mendengarkan atau tidak. Di negeri pembuangan itulah, Yehezkiel diutus untuk menyuarakan pesan Allah yang berisi ratapan, keluh kesah, dan rintihan atas perilaku umat-Nya (ay. 10).

Tugas sebagai penyambung lidah Allah tidak hanya berhenti pada masa Yehezkiel. Saat ini, kita sebagai orang percaya juga mengemban tugas yang sama. Jika pada zamannya Yehezkiel menyuarakan firman Tuhan melalui perkataan, maka kini kita dipanggil untuk melakukannya melalui perkataan dan perbuatan. Di tengah dunia yang semakin mengglobal, sekadar kata-kata tidaklah cukup untuk menunjukkan kasih Allah; dunia membutuhkan tindakan nyata. Karena kita diutus oleh Tuhan dan bukan atas kehendak sendiri, maka setiap tindakan kita sudah seharusnya mencerminkan karakter Sang Pengutus, yaitu hati yang penuh dengan kasih dan kebenaran.Tuhan memberkati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *