Roma 7:15 & 24-25

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat…. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”

 

Setiap perjalanan manusia, pasti ada jalan kehidupan yang tidak sesuai rencana kita. Kita menyusun rencana begitu sangat detail untuk mendapati kebaikan. Tetapi ketika menjalani rencana itu kita merasa ada yang kurang. Bahkan kita merasa benci pada diri sendiri karena merasa melakukan tindakan yang fatal. Momen ini membentuk karakteristik kita yang tidak percaya diri, selalu menyalahkan sendiri, dan putus asa dalam menjalani hidup.

Namun firman dalam Kitab Roma memberikan sudut pandang yang baru. Paulus mengakui kerapuhannya. Dalam Roma 7:15 ia menyatakan bahwa segala yang diperbuatnya itu, ia tidak mengerti, bahkan yang diperbuatnya adalah hal yang dibenci olehnya. Tetapi dalam ayat 25 ia menyatakan segala kerapuhannya diberi pengharapan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita. Artinya kerapuhan yang ada dalam batin kita, biarlah menjadi titik berangkat kita untuk memiliki pengharapan dalam menjalani hidup. Kegagalan dalam rencana-rencana kita membuktikan kita memerlukan tuntunan tangan Tuhan.

Maka dari itu jika diantara kita menghadapi fase gagalnya rencana dalam kehidupan kita, sadarilah dahulu kerapuhan kita. Mengakui keberadaan kita yang begitu terbatas. Kemudian kasih ruang untuk Tuhan hadir disitu untuk menguatkan kita. Kegagalan seharusnya tidak membuat kita lari dari Tuhan karena malu, melainkan membuat kita berlari kepada-Nya untuk memohon kekuatan baru.Tuhan pasti sanggup, tangan-Nya takkan terlambat untuk mengangkat kita kembali. Tuhan mengkuatkan kita. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *