Roma 15:15-16
“Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.”
Rasul Paulus adalah orang Yahudi yang hebat. Dia orang Ibrani asli, termasuk golongan Farisi yang taat dalam melaksanakan hukum Taurat, mendapat pendidikan agama yang baik sehingga memiliki pengetahuan agama yang sangat baik, bahkan dipercaya oleh Mahkamah Agama untuk mencari orang yang dianggap sesat, yaitu yang mengikut ajaran Kristus.
Namun ada satu hal menarik yang dilakukan dan dihayati oleh Rasul Paulus yaitu tentang pelayanannya. Pelayanannya bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah persembahan kepada Allah. Ia menyebut dirinya sebagai “imam Kristus Yesus” yang mempersembahkan bangsa-bangsa kepada Allah, “disucikan oleh Roh Kudus.” Paulus menyadari bahwa setiap hal yang ia lakukan berasal dari kasih karunia. Ia melayani bukan karena ia paling hebat atau paling layak, tetapi karena Allah mempercayakan tugas itu kepadanya.
Dan inilah yang perlu kita teladani. Pelayanan apapun yang kita lakukan adalah persembahan kita kepada Tuhan. Tuhan tidak mencari pelayanan yang sempurna, tetapi hati yang berserah dan taat.
Terkadang kita merasa pelayanan kita tidak berarti. Kita merasa tidak cukup mampu, tidak cukup suci, atau tidak cukup penting. Tetapi Paulus menunjukkan bahwa yang membuat pelayanan itu berkenan bukanlah kemampuan kita, tetapi karya Roh Kudus di dalamnya. Ketika kita melayani dengan anugerah, setiap tindakan menjadi harum di hadapan Allah. Maka berikanlah persembahan yang terbaik kepada Allah melalui pelayananmu. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
https://youtu.be/WCQI7jCRw7Al

