TUHAN DIAM?
Mazmur 28:7
“TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.”
Pernahkah saudara didiamkan (bahasa jawa: dinengke) oleh orang yang kita kasihi? Didiamkan oleh orang yang kita kasihi adalah pengalaman yang sangat menyedihkan. Apalagi orang itu selama ini dekat dan baik dengan kita. Ditambah lagi bila kita sedang susah dan butuh ditemani. Pada Mazmur 28 ini Daud merasakan hal yang demikian. Ia merasa Tuhan diam dan diamnya Tuhan justru ia alami di tengah masa sulitnya, di mana ia berhadapan dengan orang fasik yang melakukan kejahatan. Tetapi menariknya, meski ia merasa Tuhan diam, Daud memilih tidak diam terhadap Tuhan. Ia tetap memohon, berteriak, dan bahkan mengangkat tangannya tanda berserah penuh kepada Tuhan. Ia tetap mempercayai bahwa diamnya Tuhan bukan berarti tidak mendengar, bukan berarti tidak bertindak. Daud percaya Tuhan adalah gunung batunya, yang menjadi tempat persandarannya yang teguh bahkan juga kekuatan dan perisai, dan benteng keselamatan. Dan itulah yang kemudian dibuktikan oleh Tuhan baginya.
Saudaraku,
Pernahkah mengalami seperti apa yg dialami Daud? Jika saudara merasa Tuhan diam, janganlah berhenti berharap. Tetap percaya dan berseru pada-Nya. Percayalah dia tidak benar-benar diam. Akan tiba waktunya di mana Tuhan akan menolong kita dan memberikan keselamatan bagi kita. Jangan pernah berhenti berharap dan berseru kepada-Nya! Tuhan tidak diam. Amin.

