Yakobus 5:7
“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.”
Dunia saat ini mengagungkan kecepatan dan cara-cara yang pragmatis. Dalam budaya seperti ini, kelambatan sering dianggap sebagai kemalasan, sementara ketekunan dan ketelatenan dipandang kuno atau tidak lagi relevan. Cara pandang tersebut, tanpa kita sadari, dapat memengaruhi kehidupan iman. Kita pun dapat menganggap bahwa iman yang baik harus ditandai oleh pertobatan yang cepat, perubahan yang langsung, dan kehidupan yang seolah-olah tanpa proses.
Namun, Firman Tuhan melalui Yakobus menunjukkan hal yang berbeda. Iman yang matang tidak terbentuk dalam waktu singkat, melainkan melalui proses yang panjang dan membutuhkan kesabaran. Seperti seorang petani yang menantikan hasil dari tanahnya sambil terus merawat tanamannya, demikian pula iman kita perlu dipelihara hari demi hari. Ada waktu untuk menanam, merawat, menunggu, bahkan menghadapi musim yang tidak mudah. Karena itu, iman yang kuat bukan hanya soal seberapa cepat kita berubah, tetapi seberapa tekun kita bertahan dan terus bertumbuh dalam Tuhan.
Oleh karena itu, marilah kita tetap tekun memelihara iman dalam setiap proses kehidupan. Ketika menghadapi persoalan yang sulit atau mengalami kejatuhan, jangan menganggap bahwa semuanya telah berakhir. Bangkitlah, belajarlah, dan tetaplah setia berjalan bersama Tuhan. Sebab, seperti petani yang sabar menantikan hasil panennya, iman kita pun bertumbuh melalui ketekunan, bahkan di tengah proses yang lambat dan tidak mudah.
Selamat beraktivitas dan Tuhan memberkati kita. Amin.

