Mikha 6:8

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Apakah yang dituntut Tuhan darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

 

Bekerja adalah bagian mendasar dari kehidupan manusia. Kita rela bekerja keras tak kenal waktu untuk memenuhi kebutuhan dan membahagiakan keluarga. Namun, kerja keras sering kali berubah menjadi masalah ketika motivasinya bergeser demi sekadar mencari pengakuan sesama. Terkadang, kita memaksakan diri bukan lagi untuk keluarga, melainkan agar terlihat sukses dan tidak tertinggal oleh tren dunia.

Sikap berorientasi pada pandangan orang (impresi) ini ternyata juga dialami oleh bangsa Israel di masa lampau. Mereka mempersembahkan kurban bakaran hingga ribuan domba jantan, bahkan rela mengorbankan anak-anak sulungnya agar merasa telah melakukan ibadah yang sempurna. Sayangnya, realitas hidup mereka tidak mencerminkan identitas sebagai bangsa pilihan karena mereka masih kerap menindas sesamanya. Di mata Allah, semua persembahan mewah tersebut hanyalah ritual agama yang kosong dan sama sekali tidak berkenan bagi-Nya.

Melalui firman ini, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah menuntut kesempurnaan materi. Sekalipun terlihat hebat di mata dunia, kemewahan tidak ada artinya jika tidak disertai ketulusan hati. Segala pencapaian duniawi tidak dapat menutupi ketidakadilan, kekerasan, maupun ketidaksetiaan kita. Sesuai firman-Nya, Tuhan hanya menuntut kita untuk berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati di hadapan-Nya. Tuhan mengukur integritas, bukan impresi; menghargai ketaatan, bukan kemewahan; dan menilai karakter, bukan sekadar besarnya persembahan. Tuhan tidak menuntut kita terlihat hebat, melainkan melakukan setiap pekerjaan dengan benar, jujur, dan setia. Hiduplah dari kasih-Nya, bukan dari pujian manusia. Tuhan memberkati kita. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *