Ulangan 10:12
Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,
“Kita adalah manusia berdosa.” Kalimat ini sering kita ucapkan sebagai orang Kristen. Setelahnya, kita memasrahkan hidup sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan dengan keyakinan bahwa Ia akan menebus dosa kita hari demi hari. Alur berpikir ini tidak sepenuhnya salah. Namun, pemahaman ini sering kali keliru dan justru menjadi celah untuk menoleransi dosa. Kita seakan kehilangan batasan dan ketegasan, lalu berpikir, “Biarlah aku jatuh dalam dosa hari ini, toh aku hanya manusia rapuh.” Pola pikir semacam ini menghambat pembaruan hidup dan membuat kita gagal mengalami transformasi diri.
Mari sejenak melihat konteks Kitab Ulangan 10. Pada bagian ini, Musa mengingatkan bangsa Israel akan kasih karunia Allah yang luar biasa. Israel baru saja memberontak dengan menyembah anak lembu emas—sebuah dosa penyembahan berhala yang sangat menyakiti hati Tuhan. Namun, Allah tidak membinasakan mereka. Ia justru memulihkan perjanjian-Nya dengan memberikan loh batu yang baru. Ulangan 10:12 adalah respons yang Allah tuntut atas anugerah pengampunan tersebut. Allah tidak ingin rahmat-Nya dianggap murahan. Ia meminta tindakan nyata sebagai bukti transformasi: takut akan Dia, hidup di jalan-Nya, serta mengasihi dan melayani-Nya dengan segenap hati dan jiwa.
Bagian ini mengajarkan bahwa pengampunan dan kasih karunia bukanlah izin untuk membiarkan diri tenggelam dalam kelemahan, melainkan daya dorong untuk hidup benar. “Takut akan Tuhan” berarti memiliki rasa hormat dan kekaguman yang suci kepada-Nya, sehingga kita sungguh-sungguh membenci apa yang Dia benci, yaitu dosa. Ketika kita menggunakan status “manusia rapuh” sebagai alasan untuk memelihara dosa kesayangan, kita kehilangan esensi keselamatan itu sendiri. Transformasi diri hanya terjadi saat kita berhenti berkompromi dan mulai merespons kasih Allah dengan ketaatan penuh.
Hari ini, mari ubah cara pandang dan sikap hati kita. Alih-alih menipu diri dengan berkata, “Tuhan pasti memaklumi dosaku,” berdirilah teguh dan katakan, “Tuhan telah menebusku, maka hari ini aku memilih untuk menghormati-Nya melalui setiap keputusan, pikiran, dan tindakanku.” Jangan berikan kompromi sekecil apa pun pada dosa. Melangkahlah hari ini dengan komitmen baru untuk hidup menurut jalan-Nya, menghadirkan ibadah yang sejati di tengah realitas kehidupan kita sehari-hari. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.

