Mazmur 18:2-3
Ia berkata: “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku! Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!”
Dalam perjalanan hidup, kita pasti pernah merasakan fase “kesuksesan” dan sering kali menganggapnya sebagai puncak pencapaian manusia. Di titik ini, kita merasa tidak lagi perlu bergantung pada siapa pun. Secara materi kebutuhan kita tercukupi, secara rohani kita merasa damai, dan secara jasmani kita merasa sehat. Namun, justru pada fase inilah kita sering kali melupakan Tuhan Sang Penuntun. Kita merasa seakan-akan kesuksesan yang diraih adalah hasil kehebatan diri sendiri. Hal ini memunculkan sebuah refleksi: Apakah kekuatan iman kita hanya bergantung pada kondisi hidup yang sedang baik atau buruk?
Renungan pagi hari ini kembali mengingatkan kita akan tuntunan Tuhan. Mazmur 18 dilatarbelakangi oleh perjalanan Daud saat menghadapi musuh-musuhnya dan Raja Saul. Dalam kesuksesan dan kemenangannya, Daud tidak melupakan Tuhan, melainkan justru memuliakan nama-Nya. Ia menyadari bahwa kemenangannya semata-mata berasal dari kekuatan Tuhan, yang ia ibaratkan sebagai bukit batu penyelamat dan gunung batu tempatnya berlindung. Kisah ini menegaskan bahwa kesuksesan bukanlah bukti kehebatan kita sendiri, melainkan hasil dari tuntunan-Nya. Oleh karena itu, nama Tuhan harus selalu dimuliakan dalam kondisi apa pun, baik dalam kesuksesan maupun kedukaan.
Mari kita kembali memuliakan nama Tuhan hari ini. Ingatlah bahwa setiap napas, kesehatan, dan berkat yang kita nikmati adalah murni karena anugerah-Nya. Teruslah berpegang pada Tuhan sebagai gunung batu keselamatan kita, dan jangan pernah lelah untuk bersyukur. Selamat pagi, selamat menjalani hari ini dengan penuh damai sejahtera. Amin.

