Amsal 11:23

“Keinginan orang benar mendatangkan bahagia semata-mata, harapan orang fasik mendatangkan murka.”

 

Setiap keputusan yang kita ambil berawal dari arah hati kita. Sebelum seseorang berbicara, bertindak, atau membuat pilihan, hatinya sudah lebih dahulu menentukan ke mana ia akan melangkah. Karena itu, Amsal 11:23 tidak hanya berbicara tentang hasil akhir kehidupan, tetapi juga tentang apa yang menjadi kerinduan terdalam seseorang.

Orang benar memiliki hati yang mengarah kepada Tuhan. Kerinduannya bukan sekadar memperoleh berkat, melainkan hidup yang berkenan kepada Allah. Ketika hati tertuju kepada Tuhan, keinginan-keinginan yang muncul pun akan menghasilkan kebaikan, damai, dan menjadi berkat bagi orang lain. Kesempurnaan bukan syaratnya, tetapi kesediaan untuk terus dibentuk oleh Tuhan adalah ciri orang benar.

Sebaliknya, orang fasik menaruh harapan pada hal-hal yang tidak berpusat kepada Allah. Hati yang dikuasai oleh keserakahan, kesombongan, iri hati, atau keinginan untuk memuaskan diri sendiri mungkin tampak menjanjikan pada awalnya, tetapi akhirnya membawa kekecewaan dan menjauhkan seseorang dari Tuhan.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan hari ini bukanlah, “Apa yang sedang saya kejar?” melainkan, “Ke mana hati saya sedang mengarah?” Sebab hati yang mengarah kepada Kristus akan belajar mengasihi, mengampuni, hidup benar, dan percaya kepada penyertaan-Nya, bahkan ketika keadaan tidak mudah.

Marilah kita meminta Roh Kudus memeriksa hati kita. Jika selama ini hati kita lebih tertarik pada ambisi, kenyamanan, atau pengakuan manusia daripada kehendak Tuhan, masih ada kesempatan untuk berbalik. Tuhan sanggup memperbarui hati yang bersedia datang kepada-Nya.

Kiranya setiap hari kita dapat berkata, “Tuhan, arahkan hatiku kepada-Mu, agar setiap keinginan, perkataan, dan tindakanku memuliakan nama-Mu.” Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *