Matius 12:3-4
“Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?”
Sering kali kita begitu sibuk menjaga aturan, kebiasaan, atau tradisi sehingga lupa memperhatikan kebutuhan manusia di sekitar kita. Itulah yang terjadi dalam perdebatan Yesus dengan orang-orang Farisi. Mereka lebih peduli pada apakah murid-murid Yesus melanggar aturan Sabat daripada kenyataan bahwa mereka sedang lapar.
Yesus kemudian mengingatkan mereka tentang Daud. Saat Daud dan pengikutnya kelaparan, mereka memakan roti sajian yang sebenarnya diperuntukkan bagi para imam. Melalui kisah itu, Yesus menunjukkan bahwa hati Allah tidak dingin dan kaku. Allah melihat kondisi manusia, pergumulan mereka, dan kebutuhan mereka.
Begitu juga dalam kehidupan kita sehari-hari, kita juga bisa jatuh ke dalam sikap seperti Farisi. Kita mungkin sibuk dengan rutinitas ibadah, pelayanan, atau aturan gereja, tetapi kurang peka terhadap orang yang sedang membutuhkan perhatian, pertolongan, atau penghiburan. Tuhan tidak menolak ketaatan. Namun, ketaatan yang sejati selalu berjalan bersama kasih. Aturan tanpa kasih menghasilkan kekerasan hati. Sebaliknya, kasih menolong kita memahami tujuan dari setiap aturan yang Tuhan berikan. Ketika kita belajar melihat orang lain dengan mata kasih seperti Kristus, kita akan memahami bahwa terkadang tindakan yang paling rohani bukanlah mempertahankan tradisi, melainkan menghadirkan kasih Allah kepada mereka yang membutuhkan. Selamat berefleksi, Tuhan Yesus memberkati. Amin.

