Mazmur 6:7-8
“Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.”
Ada saat-saat ketika beban hidup terasa begitu berat sehingga air mata menjadi bahasa yang lebih jujur daripada kata-kata. Daud mengalami hal itu. Ia menangis, hatinya terluka, dan matanya menjadi lesu karena penderitaan yang ia alami. Daud sedang meratap karena sedang berada dalam penderitaan yang berat, baik secara fisik, emosional, maupun rohani. Ia merasa tertekan oleh musuh-musuhnya. Namun yang menarik, Daud tidak berhenti pada kesedihannya, ia memohon belas kasihan Tuhan.
Dalam Mazmur ini mengingatkan kita bahwa Tuhan juga mendengar tangisan, keluhan, dan jeritan hati yang paling dalam. Daud tidak menyembunyikan rasa sakitnya, dan Tuhan tidak menolaknya.
Pada ayat 8 terjadi perubahan yang luar biasa. Sebelumnya Daud dipenuhi kesedihan, tetapi kemudian ia berkata dengan penuh keyakinan, TUHAN telah mendengar suara tangisku. Keadaan di sekelilingnya mungkin belum berubah, musuh-musuhnya mungkin masih ada, tetapi hatinya telah berubah karena ia yakin Tuhan mendengar.
Maka datanglah kepada Tuhan, meskipun hanya bisa dengan bahasa air mata. Kita memperoleh damai dan keyakinan bahwa Tuhan bekerja, bahkan ketika kita belum melihat jawabannya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

