Ibrani 6:19
“Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,”
Sepasang suami istri yang telah menikah 10 tahun hampir saja kehilangan harapan akan hadirnya anak di tengah keluarga mereka. Bahkan mereka mulai merasa kesal ketika bertemu dengan teman atau saudara yang menanyakan “kok belum punya anak?” Kapan? Ayok diprogramkan.”
Ditengah rasa sedih, kesal dan juga mulai hilang pengharapan, tiba-tiba kakak mereka memiliki seorang anak lagi. Padahal kakaknya sudah memiliki empat orang anak. Dengan rela, si kakak menyerahkan anak kelima itu kepada adiknya. Awalnya memang terjadi pergumulan. Namun, karena memang masih berharap mempunyai anak, maka bayi itu diterima sepenuhnya untuk diasuh seperti anak kandung sendiri.
Penulis Surat Ibrani jelas memberikan peneguhan agar kita tidak kehilangan pengharapan. Pengharapan kepada Kristus menghantarkan pada sukacita besar. Pengharapan akan membuat jiwa dan hidup kita tenteram. Ibarat perahu yang memiliki sauh atau jangkar, perahu itu akan tetap tenang sekalipun angin badai menerpanya. Hanya mereka yang masih memiliki pengharapan yang akan tetap tegak berdiri sekalipun harus melewati badai kehidupan yang sulit.
Sering kali, kita merasa sudah tidak ada lagi harapan ketika ada yang kurang lengkap dalam kehidupan kita. Misalnya, saja seperti kisah di atas ketika tidak belum memiliki anak dalam keluarga atau ketika tiba-tiba ditinggalkan oleh orang yang paling diperlukan dan disayangi dalam hidup kita. Namun, yakinlah bahwa pengharapan kepada Kristus akan membawa kita pada sukacita besar.
Maka jangan pernah menyerah dengan situasi dan keadaan yang belum sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tetaplah berpengharapan, karena Tuhan akan memberi sukacita besar bagi kita. Tuhan Yesus memberkati, Amin.

