Ibrani 11:26

“Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.”

 

Siapa yang tidak mengenal Musa? Ia adalah tokoh penting. Jikalau melihat latar belakang Musa, ia berada di posisi yang sangat nyaman. Ia hidup di istana, memiliki akses pada kekayaan, kekuasaan, dan masa depan yang terjamin.

Namun di dalam kenyamanannya, ia lebih memilih jalan yang tidak mudah untuk menjalani panggilannya bersama Allah. Ia memilih penghinaan, penderitaan dan memilih janji Allah daripada harta Mesir. Karena pandangannya tertuju pada “upah” yaitu janji Allah yang kekal.

Saudara yang terkasih,

Musa berani keluar dari zona nyamannya untuk tetap setia di dalam panggilan Allah. Ia tahu bahwa kekayaan tanpa Allah bersifat sementara, tetapi penderitaan bersama Allah menghasilkan kemuliaan kekal.

Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita berani keluar dari zona nyaman kita? Apakah kita masih menilai keberhasilan dengan ukuran dunia atau dengan ukuran kekekalan? Tetaplah setia bersamaNya meskipun menderita, karena kita akan menerima upahNya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *