Lukas 10:27-28
“Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya:”Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
Nats kita saat ini konteksnya adalah tentang orang Samaria yang murah hati. Yesus menemukan kesalahan- kesalahan yang ada pada waktu itu, di mana orang lebih menghindari diri terhadap tanggung jawab iman dan lebih memprioritaskan kepada image pribadi, seorang Imam, dan orang dari suku Lewi (seorang suku Lewi adalah pelayan peribadatan di Rumah Tuhan orang Yahudi yang dituntut selalu tahir) mereka menghindarinya karena orang Samaria bukan keturunan asli bangsa Israel jadi tidak perlu diutamakan. Mereka menghindarinya agar tidak dianggap najis. Dalam perumpamaan ini Yesus juga menegaskan bahwa sesama kita adalah siapapun juga, tanpa pembedaan suku maupun agama. Dan kasih ini bukan terlihat dari bagaimana kita mengasihinya, seperti merasa kasihan, atau mempunyai perasaan simpati; tetapi kasih adalah sebuah tindakan, bertindak dalam kasih harus berani melakukan sesuatu yang nyata, dan penuh risiko serta konsekuensi.
Kasih tidak bergantung kepada keadaan di luar kita, tapi kepada keputusan dalam diri kita. Pilihan ada di tangan kita, Roh Kudus pun tidak dapat memaksakan kita. Lalu sudahkah kita memiliki keputusan untuk mewujudkan kasih yang bertindak? Biarlah kita belajar bertindak dalam kasih kepada sesama kita. Sehingga hidup kita pun mampu menyatakan karya dan kasih Kristus yang bertindak kepada siapapun juga. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

