Lukas 2:29-32

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

 

Kita sebagai manusia tidak akan mudah percaya ketika belum ada buktinya. Contoh: jelas-jelas yang namanya sambal itu pedas, tapi ketika saudara membuat sambal masih saja dicicipi untuk memastikan pedas atau tidak. Dalam kisah ini, Simeon diperhadapkan dengan situasi yang sulit. Simeon memang mendapatkan janji Tuhan bahwa, _“Ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan”._ Tetapi persoalannya, tidak ada bukti kuat yang mendukung digenapinya janji tersebut. Di hadapannya cuma ada seorang bayi yang kecil dan lemah, tidak menunjukkan keistimewaan apa pun. Bayi itu juga dibawa oleh orang tua yang miskin. Simeon tidak mempunyai bukti kuat yang bisa meyakinkannya bahwa bayi yang ada di hadapannya adalah benar Sang Mesias yang dijanjikan. Namun luar biasanya, Simeon percaya! Ia tidak menuntut Tuhan untuk memberikan bukti ini dan itu dahulu, baru ia mau percaya. Ia juga tidak marah ketika Tuhan tidak kunjung memenuhi janji-Nya, meskipun ia sudah menunggu sekian tahun lamanya. Simeon berserah penuh kepada Tuhan bahwa Tuhan pasti akan menepati janji-Nya. Ia tidak membutuhkan bukti karena ia punya iman.

Maka refleksi kita saat ini melalui Simeon adalah milikilah sikap berserah penuh kepada Tuhan atas perjalanan hidup kita. Percayalah bahwa Tuhan selalu menepati janji-Nya kepada kita. Tetaplah tekun dan setia dalam perjuangan hidup, serta berserah penuh kepada kebaikan dan kuasaNya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *