Kejadian 24:19
“Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.”
Ribka hendak mengambil air untuk keluarganya. Hal ini merupakan kepentingan mendesak yang harus segera dipenuhi. Hari sudah sore, jadi tidak banyak lagi waktu yang tersedia. Tetapi, ketika dilihatnya seseorang kehausan, ditundanya kepentingannya sendiri, didahulukannya kepentingan sesama, meskipun orang itu orang asing, meskipun tindakan itu menguras tenaganya. Dengan tulus, Ribka memberi minum orang asing itu, juga unta-untanya, “sampai semuanya puas minum” (ay. 19).
Apakah yang kita lihat di sini? Sosok yang selalu ikhlas memberikan diri bagi kepentingan sesama meskipun realisasinya harus dengan bersusah payah dan mengurbankan kepentingan sendiri. Pertanyaan kita: faktor apakah yang membuat Ribka menjadi pribadi seperti itu?
Salah satunya adalah kesediaan Ribka untuk menyediakan “ruang di hati bagi sesama”. Di hatinya, Ribka tentu memerlukan ruang untuk dirinya sendiri. Tetapi, di hatinya, Ribka selalu menyediakan ruang yang luas bagi sesamanya. Bahkan, sebagaimana dikisahkan di atas, Ribka siap mengurangi ruang bagi dirinya sendiri agar dapat memberi ruang lebih lagi bagi sesamanya.
Ruang bagi sesama, itulah kuncinya. Karena ada “ruang bagi sesama” di hati Ribka, hamba Abraham dan semua untanya tidak perlu kehausan. Andaikata ada “ruang bagi sesama” di dalam tiap hati, tak ada sesama yang terabaikan, tak ada kaum duafa yang melata tak terbantu, tak ada keluh-kesah yang tidak didengarkan, tak ada kemarau cinta. Sudahkan ada ruang bagi sesama di hati saudara dan saya? Tuhan Yesus memberkati. Amin.

