Markus 7:6
“Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”
Gambaran orang munafik adalah lain perkataan, lain pula yang dilakukan; lain di bibir, lain pula di hati. Apa yang tampak dibuat sedemikian baik, tetapi hatinya busuk. Dalam bacaan kita konteksnya adalah dimana rombongan orang Farisi dan ahli Taurat menemui Tuhan Yesus untuk mempertanyakan tindakan murid-murid-Nya. Murid-murid Tuhan Yesus dianggap tidak hidup menurut adat-istiadat nenek moyang. Adat mana yang dilanggar? Menurut catatan Markus, para murid makan dengan tangan yang tidak dibasuh. Di balik adat itu, ada keyakinan bahwa jika tangan itu najis, maka segala sesuatu yang disentuh akan menjadi najis pula. Jika seseorang makan sesuatu yang najis, maka dirinya akan menjadi najis. Karena itu, mencuci tangan adalah keharusan agama. Namun, bagi Tuhan Yesus, hal yang menajiskan orang bukanlah apa yang masuk ke dalamnya, melainkan apa yang keluar darinya (Mrk.7:20). Bagi orang Farisi dan ahli Taurat, yang penting adalah yang kelihatan atau yang lahiriah. Menurut Tuhan Yesus, mereka hanya seperti orang Yahudi di zaman Yesaya yang hanya memuliakan Allah dengan bibir padahal hatinya jauh dari Allah.
Di hadapan Allah, hati adalah yang menentukan sebab hati adalah sumbernya. Karena itu, segala perbuatan dan perkataan harus dilakukan dengan sepenuh hati; bukan lain di bibir, lain di hati! Maka hari ini kita belajar jadilah pribadi yang tidak munafik, selaras antara bibir, hati dan apa yang kita ucapkan serta lakukan. Selamat berefleksi, Tuhan Yesus memberkati. Amin.

