Kisah Para Rasul 5:4
“Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Integritas” adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan atau kejujuran. Integritas menunjukan konsisten antara ucapan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mengatakan A, maka kita juga melakukan A; bukannya mengatakan A, tetapi ternyata melakukan B. Kisah Ananias dan Safira merupakan kisah tentang orang-orang yang tidak memiliki integritas. Tidak konsisten antara ucapan dan perbuatan. Kesalahan mereka berdua tidak ada hubungannya sama sekali dengan jumlah uang yang mereka persembahkan kepada Tuhan, tetapi integritas moral mereka. Petrus marah kepada mereka bukan karena mereka memberi sedikit, tetapi karena mereka tidak jujur, tidak memiliki integritas moral.
Semakin lama semakin banyak orang yang justru bersikap munafik, licik, penuh tipu muslihat. Kelihatannya seperti seorang yang penuh kasih sayang ketika berada di tempat kerja, tetapi ternyata senang melakukan kekerasan terhadap istri dan anak-anaknya di rumah. Atau tampak seperti seorang yang jujur di gereja, tetapi ternyata penuh tipu muslihat ketika menjalankan usahanya. Inilah orang-orang yang tidak memiliki integritas. Maka, marilah kata dan tindakan harus menjadi hal yang tidak hanya bisa kita ucapkan, tapi juga kita lakukan dalam hidup kita. Jadilah pribadi yang berintegritas! Tuhan Yesus memberkati. Amin

